Selasa, 30 April 2013

Peta kognitif Pendekatan Behavior



No.
Aspek
Keterangan
1.
Tokoh
John Broadus Watson  pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner.
2.
Hakikat  Manusia                 
     - Corey (2003: 198) menyatakan bahwa pendekatan behavior tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap manusia dipandang  memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada dasarnya di dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya. Segenap tingkahlaku manusia itu dipelajari.
     - Winkel (2004: 420) menyatakan bahwa konseling behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian bersifat psikologis, yaitu:
a. Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek.
   b. Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkahlakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
    c. Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri suatu pola tingkahlaku yang baru melalui proses belajar.
   d. Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain
      -  Disimpulkan bahwa hakikat manusia pada pandangan behavioris yaitu pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apapun, semua tingkahlaku manusia adalah hasil belajar. Manusia pun dapat mempengaruhi orang lain, begitu pula sebaliknya. Manusia dapat menggunakan orang lain sebagai model pembelajarannya.
3.
Tujuan Konseling
-          Menurut Corey (2003: 202) menyatakan bahwa tujuan umum terapi tingkahlaku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar
-          Tujuan konseling Behavior Secara Umum:
a. Menciptakan kondisi baru pembelajar.
b. Menghapus tingkah laku maladaptive untuk digantikan perilaku yang adaptif.
c. Meningkatkan personality choice.
4.
Prinsip-Prinsip
Adapun beberapa prinsip dalam pendekatan behavior, yakni sebagai berikut:
-          Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan
-          Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan
-          Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terham-batnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan.
-          Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung)
-          Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak.  
5.
Tingkah Laku Bermasalah
Menurut Latipun (2008: 135) menyatakan bahwa perilaku yang bermasalah dalam pandangan behavioris dapat dimaknai sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negative atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan
Sedangkan menurut Feist & Feist (2008: 398) menyatakan bahwa perilaku yang tidak tepat meliputi:
-          Perilaku terlalu bersemangat yang tidak sesuai denga situasi yang dihadapi, tetapi mungkin cocok jika dilihat berdasarkan sejarah masa lalunya.
-          Perilaku yang terlalu kaku, digunakan untuk menghindari stimuli yang tidak diinginkan terkait dengan hukuman,
-          Perilaku yang memblokir realitas, yaitu mengabaikan begitu saja stimuli yang tidak diinginkan.
-          Pengetahuan akan kelemahan diri yang termanifestasikan dalam respon-respon-respon menipu diri.

6.
Peran dan Fungsi Konselor
Menurut Corey (2003: 205) menyatakan bahwa terapis tingkahlaku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yaitu terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah manusia, para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, ahli dalam mendiagnosis tingkahlaku yang maladatif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada tingkahlau yang baru dan adjustive.
7.
Pengalaman Klien dalam Konseli
Menurut Corey (2003: 208) klien harus secara aktif terlibat dalam pemilihan dan penentuan tujuan-tujuan, harus memiliki motivasi untuk berubah dan bersedia bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan terapeuttik, baik selama pertemuan-pertemuan terapi maupun di luar terapi, dalam situasi-situasi kehidupan nyata. jika klien tidak secara tidak aktif terlibat dalam proses terapeutik, maka terapi tidak akan membawa hasil-hasil yang memuaskan.
8.
Tahap-Tahap Konseling 
  1. Assesment, langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya, kekuatan dan kelemahannya, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.
  2. Goal setting, yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling
  3. Technique implementation, yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling.
  4. Evaluation termination, yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.
  5. Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling.
9.
Tahapan Perumusan Tujuan Konseling
a.       Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien
b.      Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling
c.       Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien :
a. Apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien.
b. Apakah tujuan itu realistic
c. Kemungkinan manfaatnya.
d. Kemungkinan kerugiannya
5)      Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan, mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai, atau melakukan referral
10.
Teknik Konseling
pendekatan behavioris memiliki banyak teknik spesifik yakni sebagai berikut:
1.      Desensitisasi sistematik
2.      Latihan asertif
3.      Terapi impolsif dan pembanjiran
4.      Pembentukan perilaku model
5.      Kontrak perilaku
6.      Terapi aversi
7.      Pengkondisian operan
8.      Pembentukan respon
9.      Perkuatan positif
10.  Perkuatan intermiten
11.  Penghapusan
12.  Token ekonomi
13.  Sexual training
14.  Thought stopping
11.
Keterampilan Dasar Konseling
1. Opening : Mutlak digunakan untuk menyambut dan dalam pembinaan hubungan baik. Keterampilan ini dilaksanakan diawal pertemuan supaya suasana kondusif tercapai sehingga klien mersakan bebas dalam berekspresi tentang apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya
2. Acceptance : Menurut Supriyo (2006:23), Acceptance merupakan teknik penerimaan yang digunakan oleh konselor untuk menunnjukkan mnat dan pemahaman terhadap hal-hal yang dikemukakan klien. Disini seorang konselor dituntut untuk memberikan respon secara tepat mengenai apa yang sedang dirasakan oleh klien.
3. Lead : ketrampilan mengarahkan pembicaraan yang meluas menjadi lebih mengkerucut, sehingga konselor bisa mengidentifikasi sumber masalah bisa tepat.
a)      Lead Umum
Menurut supriyo (2006;30) mengatakan bahwa lead umum merupakan teknik pengarahan yang memberikan kesempatan kepada klien untuk bebas mengelaborasi, mengeksplorasi, atau memberikan reaksi dari berbagai kemungkinan sesuai dengan keinginan klien
b)      Lead Khusus
Supriyo (2006;30) berpendapat bahwa teknik lead khusus adalah suatu keterampilan pengarahan kepada klien untuk membrikan suatu jawaban tertentu,

12.
Aplikasi Pendekatan Behavior di  Sekolah
Pendekatan behavioral ini dapat juga diaplikasikan menuju proses pembelajaran. Hal yang tampak terlihat diantaranya sebagai berikut :
a)      Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
b)      Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
c)      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
d)     Materi pelajaran digunakan sistem modul.
e)      Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
f)       Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
g)      Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
h)      Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
i)        Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
j)        Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu).
k)      Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
l)        Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
m)    Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
n)      Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
o)      Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar