Selasa, 16 April 2013

Merumuskan Tujuan Bimbingan Klasikal


1. Pengertian Tujuan Bimbingan Klasikal
           Tujuan bimbingan klasikal adalah arah dan sasaran yang hendak dicapai dalam rangka mewujudkan perkembangan yang optimal dan kemandirian siswa melalui proses bimbingan klasikal.
2. Manfaat Perumusan Tujuan Bimbingan Klasikal
    a. Tujuan bimbingan klasikal menentukan arah pada proses bimbingan klasikal dan menentukan perilaku sebagai bukti hasil bimbingan klasikal. Menurut Nurihsan (2006: 8), bahwa tujuan bimbingan memberikan arah agar individu dapat merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier, serta kehidupannya pada masa yang akan datang; mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan seoptimal mungkin; menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan kerjanya; dan mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerja. Menentukan perilaku sebagai bukti hasil bimbingan klasikal dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengenal dan memahami potensi, kekuatan, serta tugas-tugasnya; mengenal dan memahami potensi-potensi yang ada di lingkungannya; mengenal dan menentukan tujuan, rencana hidup serta rencana pencapaian tujuan tersebut; memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri; menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, lembaga tempat bekerja dan masyarakat; menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan lingkungan; serta mengembangkan segala potensi dan kekuatannya yang dimilikinya secara tepat, teratur, dan optimal.
      b. Sebagai alat untuk membantu guru pembimbing/konselor dalam mendeskripsikan, menyusun teknik dan alat penilaian bimbingan klasikal.

3. Macam-macam Tujuan Bimbingan Klasikal
           Berdasarkan  aspek-aspek yang merupakan sasaran atau perilaku sebagai bukti hasil belajar karena pengaruh bimbingan klasikal diklasifikasi menjadi tujuan bimbingan klasikal pada  aspek kognitif, afektif dan psikomotor seperti diutarakan B.S. Bloom dkk. dalam taksonominya (Winkel 1987: 149-160; Suciati 2005: 6-17) sebagai berikut:
a.       Tujuan bimbingan klasikal pada aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berpikir mencakup kemampuan intelektual sederhana yakni mengingat sampai kemampuan memecahkan masalah. Secara hirarkis tujuan bimbingan klasikal pada aspek kognitif dari tingkatan paling rendah meliputi: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b.      Tujuan bimbingan klasikal pada aspek afektif berorientasi dengan perasaan, emosi, sistem nilai, dan sikap yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Secara hirarkis tujuan bimbingan klasikal pada aspek afektif dari tingkatan paling rendah meliputi: penerimaan, partisipasi, penentuan sikap, pembentukan organisasi sistem nilai dan pembentukan pola hidup.
c.       Tujuan bimbingan klasikal pada aspek psikomotor berorientasi kepada ketrampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi syaraf dan otot. Secara hirarkis tujuan bimbingan klasikal pada aspek psikomotor dari tingkatan paling rendah meliputi: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan dan kreativitas.
        Berdasarkan waktu berlangsungnya, tujuan bimbingan klasikal dibedakan menjadi tujuan berdasarkan proses dan hasil (Nurihsan 2006: 92, Abimanyu dan Manrihu 2009182-183). Tujuan bimbingan klasikal berdasarkan proses berkaitan dengan tujuan untuk memonitor kefektifan suatu strategi yang digunakan dalam bimbingan klasikal. Tujuan bimbingan klasikal berdasararkan hasil berkaitan tipe, arah dan banyaknya perubahan tingkah laku baik selama dan setelah pelaksanaan bimbingan klasikal.
       Berdasarkan lingkupnya dibedakan adanya tujuan umum dan tujuan khusus bimbingan klasikal. Tujuan umum bimbingan klasikal ialah agar siswa dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja. Tujuan khusus bimbingan klasikal berhubungan dengan membantu siswa agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir sebagai berikut:
1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah:
  • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
  • Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
  • Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
  • Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
  • Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
  • Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
  • Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
  • Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.
  • Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.
2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah :
  • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
  • Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
  • Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
  • Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
  • Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
  • Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah
  • Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.
  • Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir.
  • Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.
  • Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.
  • Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
  • Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
  • Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut.
  • Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.
  • Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.
         Berdasarkan kompetensi kemandirian siswa diklasifikasikan tujuan bimbingan klasikal pada aspek-aspek berikut ini: (1) landasan hidup religius, (2) landasan perilaku etis, (3) kematangan emosi, (4) kematangan intelektual, (5) kesadaran tanggung jawab sosial, (6) kesadaran gender, (7) pengembangan pribadi, (8) perilaku kewirausahaan (perilaku ekonomis), (9) wawasan dan kesiapan karir, (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya, dan (11)  kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (Depdiknas 2007: 253-258).

Merumuskan Tujuan Bimbingan Klasikal
      Seperti dikemukakan di atas, bahwa tujuan bimbingan klasikal digunakan untuk mendeskripsikan, menyusun teknik dan alat penilaian bimbingan klasikal. Oleh karena itu tujuan khusus atau indikator bimbingan klasikal perlu dirumuskan dengan menggunakan kalimat yang jelas, dapat diamati dan terukur. Cara merumuskan tujuan khusus atau indikator bimbingan klasikal yang baik idealnya memenuhi kriteria A, B, C dan D. A adalah audience, yakni siswa yang mengikuti bimbingan klasikal. B adalah behavior yakni perilaku spesifik siswa setelah selesai mengikuti  bimbingan klasikal, perilaku ini terdiri atas dua bagian yakni: kata kerja operasional dan obyek atau hal spesifik yang dilakukan. C adalah condition, yaitu kondisi atau batasan atau alat yang digunakan pada saat siswa dinilai dalam menunjukkan perilaku khusus tersebut. D adalah degree, yakni tingkat  keberhasilan siswa dalam mencapai perilaku tersebut. Singkatan ABCD memudahkan mengingat keempat unsur dalam merumuskan indikator bimbingan klasikal, tetapi seringkali dirumuskan dengan susunan CABD  (Winkel 1987: 145-147; Suparman 2005: 132-139).
Contoh:
Setelah diberi kesempatan memilih jurusan siswa  mampu memilih jurusan  secara tepat.
                      C                                          A                       B                       D                                 

Dalam rangka memudahkan merumuskan kata kerja operasional pada setiap aspek dan tingkatan perilaku dapat digunakan rambu-rambu perumusan kata kerja operasional seperti pada tabel 1 dan 2 berikut ini (Depdiknas   5-8). Klasifikasi tingkat kompetensi berdasarkan kata kerja yang digunakan disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Tingkat Kompetensi Kata Kerja Operasional

No
Klasifikasi Tingkat Kompetensi
Kata Kerja Operasional yang Digunakan
1
Berhubungan dengan mencari keterangan (dealing with retrieval)

1.         Mendeskripsikan (describe)
2.         Menyebutkan kembali (recall)
3.         Melengkapi  (complete)
4.         Mendaftar (list)
5.         Mendefinisikan (define)
6.         Menghitung (count)
7.         Mengidentifikasi (identify)
8.         Menceritakan (recite)
9.         Menamai (name)
2
Memproses (processing)

1.         Mensintesis (synthesize)
2.         Mengelompokkan (group)
3.         Menjelaskan (explain)
4.         Mengorganisasikan (organize)
5.         Meneliti/melakukan eksperimen (experiment)
6.         Menganalogikan (make analogies)
7.         Mengurutkan (sequence)
8.         Mengkategorikan (categorize)
9.         Menganalisis (analyze)
10.     Membandingkan (compare)
11.     Mengklasifikasi (classify)
12.     Menghubungkan (relate)
13.     Membedakan (distinguish)
14.     Mengungkapkan sebab (state causality)
3
Menerapkan dan mengevaluasi

1.         Menerapkan suatu prinsip (applying a principle)
2.         Membuat model (model building)
3.         Mengevaluasi (evaluating)
4.         Merencanakan (planning)
5.         Memperhitungkan/meramalkan kemungkinan (extrapolating)
6.         Memprediksi (predicting)
7.         Menduga/Mengemukakan pendapat/ mengambil kesimpulan (inferring)
8.         Meramalkan kejadian alam/sesuatu (forecasting)
9.         Menggeneralisasikan (generalizing)
10.     Mempertimbangkan /memikirkan kemungkinan-kemungkinan (speculating)
11.     Membayangkan /mengkhayalkan/ mengimajinasikan (Imagining)
12.     Merancang (designing)
13.     Menciptakan (creating)
14.     Menduga/membuat dugaan/ kesimpulan awal (hypothezing)

Selain tingkat kompetensi, penggunaan kata kerja menunjukan penekanan aspek yang diinginkan, mencakup sikap, pengetahuan, serta keterampilan. Pengembangan indikator harus mengakomodasi kompetensi sesuai tendensi yang digunakan SK dan KD. Jika aspek keterampilan lebih menonjol, maka indikator yang dirumuskan harus mencapai kemampuan keterampilan yang diinginkan. Klasifikasi kata kerja berdasarkan aspek kognitif, Afektif dan Psikomotorik disajikan dalam tabel 2, 3, dan 4.



Tabel 2 : Kata Kerja Ranah Kognitif
Pengetahuan
Pemahaman
Penerapan
Analisis
Sintesis
Penilaian
Mengutip
Menyebutkan
Menjelaskan
Menggambar
Membilang
Mengidentifikasi
Mendaftar
Menunjukkan
Memberi label
Memberi indeks
Memasangkan
Menamai
Menandai
Membaca
Menyadari
Menghafal
Meniru
Mencatat
Mengulang
Mereproduksi
Meninjau
Memilih
Menyatakan
Mempelajari
Mentabulasi
Memberi kode
Menelusuri
Menulis
Memperkirakan
Menjelaskan
Mengkategorikan
Mencirikan
Merinci
Mengasosiasikan
Membandingkan
Menghitung
Mengkontraskan
Mengubah
Mempertahankan
Menguraikan
Menjalin
Membedakan
Mendiskusikan
Menggali
Mencontohkan
Menerangkan
Mengemukakan
Mempolakan
Memperluas
Menyimpulkan
Meramalkan
Merangkum
Menjabarkan

Menugaskan
Mengurutkan
Menentukan
Menerapkan
Menyesuaikan
Mengkalkulasi
Memodifikasi
Mengklasifikasi
Menghitung
Membangun
Membiasakan
Mencegah
Menentukan
Menggambarkan
Menggunakan
Menilai
Melatih
Menggali
Mengemukakan
Mengadaptasi
Menyelidiki
Mengoperasikan
Mempersoalkan
Mengkonsepkan
Melaksanakan
Meramalkan
Memproduksi
Memproses
Mengaitkan
Menyusun
Mensimulasikan
Memecahkan
Melakukan
Mentabulasi
Memproses
Meramalkan
Menganalisis
Mengaudit
Memecahkan
Menegaskan
Mendeteksi
Mendiagnosis
Menyeleksi
Merinci
Menominasikan
Mendiagramkan
Megkorelasikan
Merasionalkan
Menguji
Mencerahkan
Menjelajah
Membagankan
Menyimpulkan
Menemukan
Menelaah
Memaksimalkan
Memerintahkan
Mengedit
Mengaitkan
Memilih
Mengukur
Melatih
Mentransfer
Mengabstraksi
Mengatur
Menganimasi
Mengumpulkan
Mengkategorikan
Mengkode
Mengombinasikan
Menyusun
Mengarang
Membangun
Menanggulangi
Menghubungkan
Menciptakan
Mengkreasikan
Mengoreksi
Merancang
Merencanakan
Mendikte
Meningkatkan
Memperjelas
Memfasilitasi
Membentuk
Merumuskan
Menggeneralisasi
Menggabungkan
Memadukan
Membatas
Mereparasi
Menampilkan
Menyiapkan Memproduksi
Merangkum
Merekonstruksi

Membandingkan
Menyimpulkan
Menilai
Mengarahkan
Mengkritik
Menimbang
Memutuskan
Memisahkan
Memprediksi
Memperjelas
Menugaskan
Menafsirkan
Mempertahankan
Memerinci
Mengukur
Merangkum
Membuktikan
Memvalidasi
Mengetes
Mendukung
Memilih
Memproyeksikan



Tabel 3. Kata Kerja Ranah Afektif
Menerima
Menanggapi
Menilai
Mengelola
Menghayati
Memilih
Mempertanyakan
Mengikuti
Memberi
Menganut
Mematuhi
Meminati

Menjawab
Membantu
Mengajukan
Mengompromikan
Menyenangi
Menyambut
Mendukung
Menyetujui
Menampilkan
Melaporkan
Memilih
Mengatakan
Memilah
Menolak
Mengasumsikan
Meyakini
Melengkapi
Meyakinkan
Memperjelas
Memprakarsai
Mengimani
Mengundang
Menggabungkan
Mengusulkan
Menekankan
Menyumbang
Menganut
Mengubah
Menata
Mengklasifikasikan
Mengombinasikan
Mempertahankan
Membangun
Membentuk pendapat
Memadukan
Mengelola
Menegosiasi
Merembuk
Mengubah perilaku
Berakhlak mulia
Mempengaruhi
Mendengarkan
Mengkualifikasi
Melayani
Menunjukkan
Membuktikan
Memecahkan
Tabel 4. Kata Kerja Ranah Psikomotorik
Menirukan
Memanipulasi
Pengalamiahan
Artikulasi
Mengaktifkan
Menyesuaikan
Menggabungkan
Melamar
Mengatur
Mengumpulkan
Menimbang
Memperkecil
Membangun
Mengubah
Membersihkan
Memposisikan
Mengonstruksi
Mengoreksi
Mendemonstrasikan
Merancang
Memilah
Melatih
Memperbaiki
Mengidentifikasikan
Mengisi
Menempatkan
Membuat
Memanipulasi
Mereparasi
Mencampur
Mengalihkan
Menggantikan
Memutar
Mengirim
Memindahkan
Mendorong
Menarik
Memproduksi
Mencampur
Mengoperasikan
Mengemas
Membungkus

Mengalihkan
Mempertajam
Membentuk
Memadankan
Menggunakan
Memulai
Menyetir
Menjeniskan
Menempel
Menseketsa
Melonggarkan
Menimbang

Daftar Pustaka
Abimanyu, Soli dan M. Thayeb Manrihu. 2009. Teknik dan Laboratorium Konseling Jilid I. Makassar: Badan Penerbit UNM
Depdiknas. 2007. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2009. Panduan Pengembangan Indikator. http://www.docudesk.com (3 April 2011).
Nurihsan, Achmad Juntika. 2006. Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Belakang Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.
Suciati. 2005. PEKERTI. Mengajar di Perguruan Tinggi. Buku 1.07. Taksonomi Tujuan Instruksional. Jakarta: Pusat antar Universitas untuk peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Derektorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdiknas.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Tujuan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. http://akhmadsudrajat. wordpress.com/2008/03/14/tujuan-bimbingan-dan-konseling/ (3 April 2011).
Suparman, Atwi W. 2005. PEKERTI. Mengajar di Perguruan Tinggi. Buku 1.08. Desain Instruksional. Jakarta: Pusat antar Universitas untuk peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Derektorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdiknas.
Winkel. W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar